Selasa, 02 Juni 2020


MASALAH MAYORITAS DAN MINORITAS DITENGAH MASYARAKAT PLURALITAS

Dalam masyarakat pluralistis seperti Indonesia  penyebab terdekat konflik sosial adalah masalah mayoritas dan minoritas agama. Karena konflik ini maka sering ilmu sosiologi melakukan studi dan kajian tentang masalah minoritas di tengah mayoritas untuk menganalisis bagaimana sikap kelompok mayoritas terhadap minoritas dan juga sebaliknya. Studi tentang masalah ini didekati dari sudut pandangan politik, demografi agama, sosiologi, dll. Secara umum, hasil studi menyimpulkan hubungan antara golongan mayoritas dan minoritas sering diungkapkan dengan istilah: diktatur mayoritas dan teror minoritas.
1.     Negara  Mayoritas dan Minoritas Agama
Negara-negara di Eropa Barat, Amerika Selatan dan Amerika Utara, berpenduduk mayoritas Kristen (Protestan dan Katolik). Sedangkan di luar negara-negara tersebut penganut agama Kristen adalah minoritas, kecuali Filipina dan Australia. Di Eropa tidak ada negara berpenduduk mayoritas Islam kecuali Albania, mayoritas (80%) beragama Islam. Mayoritas penduduk dunia sekarang ini beragama Islam. Menyusul Hidu dan Kristen (Katolik dan Protestan).
2.     Pancasila Membedung Benturan antar Agama
Di Indonesia agama sebagai sumber bentura/konflik secara prinsip sudah dibendung oleh Pancasila sebagai haluan negara serta Undang-Undang Dasar 1945. Setiap warga negara diberi kebebasan menganut agama yang dipilihnya dan diberi hak untuk beribadat secara pribadi/kelompok, bahkan penyebaran agama. Akan tetapi karena kelemahan dan keterbatasan manusia maka pelaksanaan hidup beragama kadang-kadang tidak sesuai dengan amanat Panca Sila dan UUD 45.
3.     Memanfaatkan Saluran Hukum
Kelompok intelektual mayoritas cukup memahami minoritas tetapi sering mereka juga gunakan saluran hukum untuk melumpuhkan usaha dan kekuatan minoritas. Contoh, mengeluarkan peraturan yang melarang peredaran buku-buku tertentu, penyiaran agama kepada orang lain, menuntut syarat-syarat yang ketat untuk mendapat izin mendirikan sarana-sarana ibadat dengan macam-macam alasan antara lain: demi keamanan dan ketertiban masyarakat. Padahal justru golongan minoritas mengalami gangguan, tekanan, hambatan konkrit. Minoritas merasa tak berdaya membebaskan diri dari diktatur mayoritas. Lembaga hukum pun tidak dapat berbuat apa-apa terkait kenyataan ini sebab hukum dan tata aturan dibuat kelompok mayoritas. Disini letak lingkaran setan yang diciptakan masyarakat mayoritas agama atau ideologi tertentu.
4.     Sikap Minoritas Terhadap Hukum yang Menekan
Saluran hukum sering kali membuat golongan minoritas tidak bisa berbuat apa-apa. Meskipun demikian, kelompok minroitas sering melakukan sesuatu untuk melawan hukum yang menekan. Secara keseluruhan, terdapat 4 (empat) tindakan yang dilakukan:
4.1    Menjauhkan diri
-        Meskipun dari segi agama dipandang minoritas, tapi dari  segi ekonomi, pendidikan dan kesenian tidak merasa diri minoritas.
-        Karena itu demi keselamatan dan kelestarian kelompoknya, mereka menjauhkan diri dari pengaruh mayoritas dengan cara mengungsi ke daerah terpencil.
-        Contoh, suku bangsa Tengger di Jawa Timur dan suku bangsa Badui di Jawa Barat.

4.2    Hidup tersebar di tengah mayoritas
-        Ada golongan minoritas yang tidak menyadari dirinya sebagai minoritas.
-        Mereka memilih hidup berjauhan, tersebar dan meleburkan  di tengah daerah mayoritas
-        Mereka ini sangat gampang meninggalkan agamanya dan berpindah ke agama mayoritas.
-        Contohnya, pegawai negeri/guru-guru Katolik yang ditempatkan di daerah terpencil dan di tengah masyarakat mayoritas Islam, jauh dari komunitas Katolik misalnya, sangat mudah memilih masuk agama Islam
4.3    Kelompok minoritas berkesadaran tinggi
-        Kelompok ini memiliki kesadaran tinggi atas kedudukannya dalam masyarakat
-        Mereka merasa dan berupaya membuktikan bahwa kehadirannya sangat relevan bagi bangsa, negara dan masyarakat melalui organisasi edukasi, ekonomi, amal kesehatan, pemikiran bermutu, dsb.
-        Mereka juga berani berjuang dalam bidang hukum, ekonomi dan pemerintahan bersama kelompok mayoritas
-        Mereka berjuang dengan bendera: Nasionalisme, kualitas, integritas, bonum commune, network, dan iman.
4.4    Minoritas Beridiologi Marxis
-        Golongan minoritas beridiologi Marxis menunjukan reaksinya terhadap mayoritas dengan cara sendiri.
-        Cara yang lasim dipakai adalah revolusi fisik, disertai agitasi, adu domba, pembunuhan dsb.
-        Cara revolusioner ini dalam sejarah politik dipakai di mana-mana oleh kelompok minoritas politik.
-        Mereka berupaya menjadi teror minoritas.
Kelompok minoritas sering mengalami hambatan  dan tekanan  dari kelompok mayoritas terutama melalui jalur hukum. Menghadapi kelompok mayoritas, kelompok minoritas seharusnya terus terlibat aktif mempengaruhi masyarakat, bangsa dan negara yang dikuasai kelompok minoritas. Pengaruh atas kelompok minoritas  dapat dilakukan melalui jalaur pendidikan, ekonomi, hukum, kesehatan dengan etos kerja yang baik, integritas diri, serta mutu pendidikan dan bobot pemikiran yang hebat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar