MASALAH MAYORITAS
DAN MINORITAS DITENGAH MASYARAKAT PLURALITAS
Dalam
masyarakat pluralistis seperti Indonesia
penyebab terdekat konflik sosial adalah masalah mayoritas dan minoritas
agama. Karena konflik ini maka sering
ilmu sosiologi melakukan studi dan kajian tentang masalah minoritas di tengah
mayoritas untuk menganalisis bagaimana sikap kelompok mayoritas terhadap
minoritas dan juga sebaliknya. Studi tentang masalah ini didekati dari sudut
pandangan politik, demografi agama, sosiologi, dll. Secara umum, hasil studi
menyimpulkan hubungan antara golongan mayoritas dan minoritas sering
diungkapkan dengan istilah: diktatur mayoritas dan teror minoritas.
1.
Negara Mayoritas
dan Minoritas Agama
Negara-negara di Eropa Barat,
Amerika Selatan dan Amerika Utara, berpenduduk mayoritas Kristen (Protestan dan
Katolik). Sedangkan di luar negara-negara tersebut penganut agama Kristen
adalah minoritas, kecuali Filipina dan Australia. Di Eropa tidak ada negara
berpenduduk mayoritas Islam kecuali Albania, mayoritas (80%) beragama Islam. Mayoritas penduduk dunia sekarang ini beragama Islam.
Menyusul Hidu dan Kristen (Katolik dan Protestan).
2.
Pancasila Membedung
Benturan antar Agama
Di
Indonesia agama sebagai sumber bentura/konflik secara prinsip sudah dibendung
oleh Pancasila sebagai haluan negara serta Undang-Undang Dasar 1945. Setiap warga negara diberi kebebasan menganut agama yang dipilihnya dan diberi
hak untuk beribadat secara pribadi/kelompok, bahkan penyebaran agama. Akan
tetapi karena kelemahan dan keterbatasan manusia maka pelaksanaan hidup
beragama kadang-kadang tidak sesuai dengan amanat Panca Sila dan UUD 45.
3.
Memanfaatkan Saluran Hukum
Kelompok intelektual mayoritas
cukup memahami minoritas tetapi sering mereka juga gunakan saluran hukum untuk
melumpuhkan usaha dan kekuatan minoritas.
Contoh,
mengeluarkan peraturan yang melarang peredaran buku-buku tertentu, penyiaran
agama kepada orang lain, menuntut syarat-syarat yang ketat untuk mendapat izin
mendirikan sarana-sarana ibadat dengan macam-macam alasan antara lain: demi
keamanan dan ketertiban masyarakat.
Padahal
justru golongan minoritas mengalami gangguan, tekanan, hambatan konkrit. Minoritas
merasa tak berdaya membebaskan diri dari diktatur mayoritas. Lembaga hukum pun
tidak dapat berbuat apa-apa terkait kenyataan ini sebab hukum dan tata aturan
dibuat kelompok mayoritas.
Disini
letak lingkaran setan yang diciptakan masyarakat mayoritas agama atau ideologi
tertentu.
4.
Sikap Minoritas
Terhadap Hukum yang Menekan
Saluran hukum sering kali membuat golongan minoritas
tidak bisa berbuat apa-apa. Meskipun demikian,
kelompok minroitas sering melakukan sesuatu untuk melawan hukum yang menekan. Secara keseluruhan, terdapat 4 (empat) tindakan yang
dilakukan:
4.1
Menjauhkan diri
-
Meskipun dari segi agama dipandang minoritas, tapi
dari segi ekonomi, pendidikan dan
kesenian tidak merasa diri minoritas.
-
Karena itu demi keselamatan dan kelestarian kelompoknya,
mereka menjauhkan diri dari pengaruh mayoritas dengan cara mengungsi ke daerah
terpencil.
-
Contoh, suku bangsa Tengger di Jawa Timur dan suku bangsa
Badui di Jawa Barat.
4.2
Hidup tersebar di tengah mayoritas
-
Ada golongan minoritas yang tidak menyadari dirinya
sebagai minoritas.
-
Mereka memilih hidup berjauhan, tersebar dan
meleburkan di tengah daerah mayoritas
-
Mereka ini sangat gampang meninggalkan agamanya dan
berpindah ke agama mayoritas.
-
Contohnya, pegawai negeri/guru-guru Katolik yang ditempatkan
di daerah terpencil dan di tengah masyarakat mayoritas Islam, jauh dari
komunitas Katolik misalnya, sangat mudah memilih masuk agama Islam
4.3
Kelompok minoritas berkesadaran tinggi
-
Kelompok ini memiliki kesadaran tinggi atas kedudukannya
dalam masyarakat
-
Mereka merasa dan berupaya membuktikan bahwa kehadirannya
sangat relevan bagi bangsa, negara dan masyarakat melalui organisasi edukasi,
ekonomi, amal kesehatan, pemikiran bermutu, dsb.
-
Mereka juga berani berjuang dalam bidang hukum, ekonomi
dan pemerintahan bersama kelompok mayoritas
-
Mereka berjuang dengan bendera: Nasionalisme, kualitas,
integritas, bonum commune, network, dan iman.
4.4
Minoritas Beridiologi Marxis
-
Golongan minoritas beridiologi Marxis menunjukan
reaksinya terhadap mayoritas dengan cara sendiri.
-
Cara yang lasim dipakai adalah revolusi fisik, disertai
agitasi, adu domba, pembunuhan dsb.
-
Cara revolusioner ini dalam sejarah politik dipakai di
mana-mana oleh kelompok minoritas politik.
-
Mereka berupaya menjadi teror minoritas.
Kelompok minoritas sering mengalami hambatan dan tekanan
dari kelompok mayoritas terutama melalui jalur hukum.
Menghadapi kelompok mayoritas, kelompok minoritas
seharusnya terus terlibat aktif mempengaruhi masyarakat, bangsa dan negara yang
dikuasai kelompok minoritas. Pengaruh atas kelompok minoritas dapat dilakukan melalui jalaur pendidikan,
ekonomi, hukum, kesehatan dengan etos kerja yang baik, integritas diri, serta
mutu pendidikan dan bobot pemikiran yang hebat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar