Hinduisme
LATAR BELAKANG: KEBUDAYAAN INDUS
Kebudayaan Indus kuno temyata sangat canggih. 1000 tahun
sebelum cendekiawan Arian (yang menyusun Veda) memasuki Indus,
tempat itu sudah didiami
manusia-manusia yang memiliki kebudayaan kota yang kompleks. Kebudayaan ini disebut kebudayaan lembah Indus. Dalam hal masih bisa saja, mungkin
kebudayaan itu mulai mekar pada 3000 tahun SM di bagian bawah lernbah sungai Indus. Sejak 2000 SM para penduduknya berhasil menguasai
daerah yang luasnya I /3 dari luas India saat ini, mencapai Himalaya (utara), Bomuay (selatan), sepanjang pantai (barat) dan Delhi (Timur). Dalam hal itu pun juga bisa dilihat juga
bagaimana kebudayaan itu sendiri bisa berdiri di Indonesia.
Dimana sama hal nya akan, adanya juga
Karakteristik Budaya itu sendiri dari tradisi yang dimiliki oleh kebudayaan
Indus/hindu. Hinduisme merespon motivasi praktis dan spekulatif.
Pandangan spekulatif merupakan khazanah penjelasan tentang sifat realitas dan eksistensi insani. Pandangan praktis mendorong untuk
mencari_usaha untuk menghadapi penderitaan. Dengan adanya dua pendekatan dasar
atas ‘penderitaan’. Keduanya mengenali penderitaan sebagai jurang pemisah antara apa yang ada pada manusia dan yang dimiliki manusia di satu pihak, dan apa yang diingini dan ingin dimiliki manusia di pihak lain. Serta
dengan adanya beberapa prinsip pokok-pokok penting yang ada di dalam diri
manusia yang memiliki karakteristik itu sendiri akan budaya atau kebudayaan
yang telah dipercayainya.
Seringkali
suatu filsafat tertentu tidak diketahui siapa tokohnya,
sebagai data waktu dan tempat dicari secara tidak langsung.
Periodisasi Hinduisme :
a.
Periode
Veda (1500-700 SM)
b.
Periode
Epik (800-200 SM)
c.
Periode
Sutra (400-500M)
d.
Periode
Khazanab Ulasan
(400-1700M)
e.
Periode
Modern (1800-Sekarang)
Klaim-klaim atas sesuatu itu bergantung pada syarat-syarat dan
kondisi-kondisi tertentu. Jika syarat-syarat
tersebut dilepaskan, maka klaim itu bukanlah kebenaran. Jainisme juga menekankan
peranan tingkah laku. Tingkah
laku juga dipandang penting
untuk pembebasan,
karena tingkah laku yang
benar akan
menghentikan pengaruh nafsu-nsfsu dan keinginan-keinginan. Efek dari hal ini
adalah: kaum Jain menerapkan standar
moral yang sangat tinggi. Untuk mencapai tingkah laku yang saleh, ada berbagai keluhuran untuk itu:
a.
Keluhuran
tidak melukai
b.
Cinta
pada kebenaran (satya)
c.
Keluhuran
berpantang mencuri
d.
Kemurnian
seksual (Brahmacarya)
e.
Keluhuran
berpantang bersikap
Kaum Jain mengembangkan lebih jauh ahimsa ini dibanding Budha dan Hindu. Dasar
ahirnsa adalah: semua makhluk hidup itu terangkum dalam komunitas dan komunitas
ini didasari cinta kasih, sehingga tindakan
melukai dalam bentuk apapun
adalah melukai
komunitas itu sendiri. Jiwa-nyawa ada untuk saling
melayani. Tindakan
melukai adalah tindakan membahayakan makhluk hidup
lain baik itu sengaja dan akibat dari kelalaian. Membiarkan diri_dilukai juga termasuk melukai. Perjuangan untuk tidak melukai
berarti mentransendensi keangkuhan, kebencian, ketamakan,
nafsu dan prasangka. Tidak hanya menyangkut perbuatan, tapi juga keinginan! Jadi sekedar
maksud melukai sudah termasuk melukai.
Dengan
demikian, hal ini menjadikan hinduisme itu sendiri suatu tanda baru tersendiri
bagi Setiap orang yang menganut kebudayaan Hindu itu tersendiri dengan apa yang
dimilikinya itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar