Selasa, 02 Juni 2020


Hinduisme

LATAR BELAKANG: KEBUDAYAAN INDUS
Kebudayaan Indus kuno temyata sangat canggih. 1000 tahun sebelum cendekiawan Arian (yang menyusun Veda) memasuki Indus, tempat itu sudah didiami manusia-manusia yang memiliki kebudayaan kota yang kompleks. Kebudayaan ini disebut kebudayaan lembah Indus. Dalam hal masih bisa saja, mungkin kebudayaan itu mulai mekar pada 3000 tahun SM di bagian bawah lernbah sungai Indus. Sejak 2000 SM para penduduknya berhasil menguasai daerah yang luasnya I /3 dari luas India saat ini, mencapai Himalaya (utara), Bomuay (selatan), sepanjang pantai (barat) dan Delhi (Timur). Dalam hal itu pun juga bisa dilihat juga bagaimana kebudayaan itu sendiri bisa berdiri di Indonesia.
Dimana sama hal nya akan, adanya juga Karakteristik Budaya itu sendiri dari tradisi yang dimiliki oleh kebudayaan Indus/hindu. Hinduisme merespon motivasi praktis dan spekulatif. Pandangan spekulatif merupakan khazanah penjelasan tentang sifat realitas dan eksistensi insani. Pandangan praktis mendorong untuk mencari_usaha untuk menghadapi penderitaan. Dengan adanya dua pendekatan dasar atas ‘penderitaan’.  Keduanya mengenali penderitaan sebagai jurang pemisah antara apa yang ada pada manusia dan yang dimiliki manusia di satu pihak, dan apa yang diingini dan ingin dimiliki manusia di pihak lain. Serta dengan adanya beberapa prinsip pokok-pokok penting yang ada di dalam diri manusia yang memiliki karakteristik itu sendiri akan budaya atau kebudayaan yang telah dipercayainya.
Seringkali suatu filsafat tertentu tidak diketahui siapa tokohnya, sebagai data waktu dan tempat dicari secara tidak langsung.
Periodisasi Hinduisme :
a.      Periode Veda (1500-700 SM)
b.     Periode Epik (800-200 SM)
c.      Periode Sutra (400-500M)
d.     Periode Khazanab Ulasan (400-1700M)
e.      Periode Modern (1800-Sekarang)
Klaim-klaim atas sesuatu itu bergantung pada syarat-syarat dan kondisi-kondisi tertentu. Jika syarat-syarat tersebut dilepaskan, maka klaim itu bukanlah kebenaran. Jainisme juga menekankan peranan tingkah laku. Tingkah laku juga dipandang penting untuk pembebasan, karena tingkah laku yang benar akan menghentikan pengaruh nafsu-nsfsu dan keinginan-keinginan. Efek dari hal ini adalah: kaum Jain menerapkan standar moral yang sangat tinggi. Untuk mencapai tingkah laku yang saleh, ada berbagai keluhuran untuk itu:
a.      Keluhuran tidak melukai
b.     Cinta pada kebenaran (satya)
c.      Keluhuran berpantang mencuri
d.     Kemurnian seksual (Brahmacarya)
e.      Keluhuran berpantang bersikap
Kaum Jain mengembangkan lebih jauh ahimsa ini dibanding Budha dan Hindu. Dasar ahirnsa adalah: semua makhluk hidup itu terangkum dalam komunitas dan komunitas ini didasari cinta kasih, sehingga tindakan melukai dalam bentuk apapun adalah melukai komunitas itu sendiri. Jiwa-nyawa ada untuk saling melayani. Tindakan melukai adalah tindakan membahayakan makhluk hidup lain baik itu sengaja dan akibat dari kelalaian. Membiarkan diri_dilukai juga termasuk melukai. Perjuangan untuk tidak melukai berarti mentransendensi keangkuhan, kebencian, ketamakan, nafsu dan prasangka. Tidak hanya menyangkut perbuatan, tapi juga keinginan! Jadi sekedar maksud melukai sudah termasuk melukai.
Dengan demikian, hal ini menjadikan hinduisme itu sendiri suatu tanda baru tersendiri bagi Setiap orang yang menganut kebudayaan Hindu itu tersendiri dengan apa yang dimilikinya itu sendiri.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar