Selasa, 02 Juni 2020


Dampak Pandemi COVID 19 terhadap Institusi Pendidikan di Indonesia

Organisasi Pendidikan, Keilmuwan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO menyebut hampir 300 juta siswa di seluruh dunia terganggu kegiatan sekolahnya dan terancam hak-hak pendidikan mereka di masa depan. Presiden Joko Widodo sudah mengimbau untuk bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah semasa pandemi virus corona ini. Pemerintah juga memutuskan untuk membatalkan Ujian Nasional 2020.
Seberapa besar dampak virus korona terhadap dunia pendidikan di Indonesia? Efektifkah langkah belajar dari rumah yang sudah berjalan selama ini? Untuk menekan penyebaran corona, sejak 16 Maret 2020 pemerintah memutuskan agar siswa-siswi belajar dari rumah. Tak hanya itu, Presiden Jokowi telah menetapkan pembatalan UN 2020 akibat pandemi corona atau Covid-19.
Kebijakan ini diharapkan pemerintah bisa mengurangi mobilitas pelajar dan mahasiswa sehingga dapat menekan penyebaran corona. Dalam praktiknya, proses belajar mengajar di rumah, siswa dan guru dibantu dengan aplikasi belajar online. Namun, sejumlah kesulitan ditemui para guru saat menjalankan metode belajar dari rumah.
Belajar di rumah menjadi langkah yang dinilai ampuh dalam memutus rantai penyebaran virus corona. Namun, tak sedikit orangtua dan siswa yang kerepotan dengan kegiatan ini sehingga diperlukan kiat khusus.
Meningkatnya virus   Covid-19 di Indonesia  membuat  pemerintah pusat maupun daerah mengeluarkan berbagai imbauan, peraturan, dan kebijakan yg di berika kepada masyarakat seluruh Indonesia. Sangat disesali  imbauan tersebut masih  diabaikan oleh sejumlah orang. Karena berdampak sangat fatal, virus ini  sangat mudah menyebar dan  menyerang kekebalan tubuh dengan cepat bahkah banyak meregut korban jiwa. bukan hanya  Indonesia  yang  melawan  virus  covid -19.  
Solusi yang diberikan Tanggapan pemerintah terhadap covid -19 untuk meniadakan aktivitas pembelajaran di sekolah di ganti dengan sistem daring atau pembelajaran melalui online agar mencegah penularan covid -19. Bahkan ujian akhir sekolah yang sudah terjadwal akhirnya diputuskan untuk ditiadakan, demi menyelamatkan para siswa dari penyebaran civid-19. Kebijakan yang dilakukan pemerintah untuk mengurangi kegiatan termasuk belajar, bekerja dari rumah masih saja menimbulkan gejolak dalam pelaksanannya. Salah satunya dalam proses pemberian tugas. Banyaknya tugas yg  diberikan kepada siswa  yg memberatkan,
Sehingga Banyak orang tua yg komplen kepada guru untuk mengurangi tugas yg di berikan kepada muridnya,  dilain sisih guru memegang amanah mengajar mengikuti kurikulum yg di tetepkan oleh pemerintah dengan fasilitas seadanya banyak tugas yang tidak tersampaikan dengan baik hingga menimbulkan masalah tentang pemberian tugas.
Dengan diadakannya sistem daring seharusnya guru memberikan siswa aktifitas merangsang otak sehingga apabila kembali ke aktifitas semula siswa sudah siap untuk memulai kembali pembelajaran, serta memberikan penjelasan tentang virus covid -19 terlebih dahulu karena virus ini sangat berbahaya. Memulai dari memberikan pengertian kenapa harus belajar di rumah tentang cara pencegahan agar siswa mengerti bahaya covid-19 yang sedang merambah dunia. dengan  cara guru memberikan
Pengajaran tentang Covid-19 dapat mengurangi penyebaran virus  dan mengurangi dampak penularan virus Covid-19 di Indonesia. Semoga dengan adanya pembelajaran sistem online pendidikan Indonesia dapat berlanjut siswa dapat belajar dengan tenang dirumah dan guru dapat memberikan materi pembelajaran dengan baik. Sehingga pemahaman tentang  virus Covid-19 di Indonesia cepat di pahami dan Maslaah Covid -19 dapat segera  selesaikan.
Dampak pandemi Virus Corona kini mulai sudah merambah ke dunia pendidikan. Pemerintah Pusat hingga Pemerintah Daerah mengeluarkan kebijakan untuk meliburkan seluruh lembaga pendidikan. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya pencegahan meluasnya penularan Virus Corona (Covid-19).
Diharapkan seluruh lembaga pendidikan tidak melaksanakan aktivitas seperti biasanya. Hal itu dapat meminimalisir penyebaran penyakit Covid-19 ini. Hal serupa juga sudah dilakukan sudah dilakukan beberapa begara yang terpapar penyakit Covid-19 ini. Kebijakan lockdown atau karantina dilakukan sebagai upaya mengurangi interaksi banyak orang yang dapat memberi akses pada penyebaran Virus Corona.
Penyebaran Virus Corona ini pada mulanya sangat berdampak pada dunia ekonomi yang mulai lesu, akan tetapi kini dampaknya juga dirasakan oleh dunia pendidikan. Kebijakan yang diambil oleh banyak negara, termasuk Indonesia dengan meniadakan seluruh aktivitas pendidikan, membuat pemerintah dan lembaga terkait harus menghadirkan alternatif sebagai proses pendidikan bagi peserta didik maupun mahasiswa yang tidak bisa melaksanakan proses pendidikan pada lembaga pendidikan.
Sesuai data yang diperoleh dari UNESCO, hingga saat ini sudah ada 39 negara yang menerapkan penutupan sekolah dengan total jumlah pelajar yang terpengaruh mencapai 421.388.462 anak. Negara Cina sejauh ini memiliki jumlah pelajar yang paling banyak terpengaruh karena virus corona yaitu sekitar lebih dari 233 juta siswa.
Sedangkan negara lainnya, hingga 13 Maret 2020 sudah ada 62 negara di Afrika, Asia, Eropa, Timur Tengah, Amerika utara dan Amerika selatan yang mengumumkan atau menerapkan pembatasan pembelajaran sekolah maupun universitas. UNESCO menyediakan dukungan langsung ke negara-negara, termasuk solusi untuk pembelajaran jarak jauh yang inklusif.
Direktur jenderal UNESCO Audrey Azoulay dalam sebuah pernyataan menegaskan, UNESCO bersama setiap negara-negara bekerja sama untuk memastikan kesinambungan dalam pembelajaran bagi semua, terutama anak-anak dan remaja yang kurang beruntung dan cenderung paling terpukul oleh penutupan sekolah. Kebijakan penutupan sekolah di negara-negara tersebut, berdampak pada hampir 421,4 juta anak-anak dan remaja di dunia. Dalam situs UNESCO dikemukakan bahwa pandemi corona ini mengancam 577 juta pelajar di dunia.
Total jumlah pelajar yang berpotensi berisiko dari pendidikan pra-sekolah dasar hingga menengah atas adalah kurang lebih 577.305.660. Sedangkan jumlah pelajar yang berpotensi berisiko dari pendidikan tinggi kurang lebih 86.034. 287 orang. Hingga saat ini di Indonesia, beberapa kampus baik itu PTN/PTS mulai menerapkan kebijakan kegiatan belajar mengajar dari jarak jauh atau kuliah online dengan memanfaatkan aplikasi pembelajaran online yang ada seperti aplikasi edmodo, google classroom, zoom dan sebagainya.
Universitas Negeri Manado (Unima), tempat saya menempuh pendidikan pada perguruan sekarang yang juga sebagai salah satu perguruan tinggi negeri yang ada di provinsi Sulawesi Utara sudah memiliki sistem akademik berbasis daring (online) yang dapat akses melalui laman https://www.amelia.unima.ac.id. Dengan adanya laman tersebut UNIMA sudah menyelenggarakan proses akademik berbasis online atau kuliah online.
Kemendikbud saat ini berdasarkan keterangan secara resminya, siap dengan semua skenario termasuk penerapan bekerja bersama-sama untuk mendorong pembelajaran secara daring (dalam jaringan) atau online untuk para siswa.
Hal tersebut sebagai upaya agar para siswa tetap belajar di rumah. Kementrian Pendidikan Dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyiapkan sejumlah dukungan untuk memperlancar proses tersebut. Kemendikbud sendiri mengembangkan aplikasi pembelajaran jarak jauh berbasis portal dan android Rumah Belajar. Portal Rumah Belajar dapat diakses di belajar.kemdikbud.go.id.
Saat ini berdasarkan informasi bahwa kemendikbud turut menggandeng beberapa platform belajar online yakni Kelas Pintar, Sekolahmu, Zenius, Ruang Guru, Quipper, Google Indonesia dan Microsoft. Setiap platform akan memberikan fasilitas yang dapat diakses secara umum dan gratis. Pandemi corona ini memang sebuah ujian yang berat bagi seluruh bangsa, menguji kemampuan semua bangsa untuk dapat mengambil hikmah dengan terus berupaya dan berikhtiar mencari solusi pada setiap masalah yang ada. Sebagai bangsa yang besar, indonesia harus mempu melalui segala masalah yang ada. Hal ini dibuktikan dengan indonesia siap dengan segala kemungkinan, dengan lahirnya teknologi karya anak bangsa untuk memberikan layanan pendidikan secara daring atau online. Diantara mereka tidak sedikit yang berprofesi dokter dan tenaga medis. Virus ini mudah menyebar dari satu orang ke orang lain. Efeknya pemerintah melarang berkumpul dalam jumlah yang banyak, tidak boleh dekat-dekat termasuk dengan siswa disekolah. Walhasil, banyak kantor dan aktivitas lain diliburkan sampai waktu yang belum ditentukan. Walaupun demikian kita harus yakin bahwa dibalik semua bencana dan tragedi ada hikmah dibalik itu.
Dampak mewabahnya virus corona (Covid-19) kini juga telah dirasakan oleh dunia pendidikan. Hal ini telah diakui oleh organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO), bahwa wabah virus corona telah berdampak terhadap sektor pendidikan. Hampir 300 juta siswa terganggu kegiatan sekolahnya di seluruh dunia dan terancam hak-hak pendidikan mereka di masa depan.
Jika kondisi ini terus meningkat, maka sudah bisa dipastikan dampaknya terhadap sektor pendidikan juga akan semakin meningkat. Dampak yang paling dikhawatirkan adalah efek jangka panjang. Sebab para siswa dan mahasiswa secara otomatis akan merasakan keterlambatan dalam proses pendidikan yang dijalaninya. Hal ini bisa mengakibatkan pada terhambatnya perkembangan kematangan mereka di masa yang akan datang. Apalagi jika Covid-19 ini tidak segera berakhir. Dengan kebijakan penundaan sekolah-sekolah di negara-negara yang terdampak virus tersebut secara otomatis dapat mengganggu hak setiap warganya untuk mendapatkan layanan pendidikan yang layak. Penutupan sekolah-sekolah dan kampus tersebut tentu dapat menghambat dan memperlambat capaian target yang sudah ditetapkan oleh pemerintah dan atau sekolah masing-masing.
Kondisi demikian akan mengganggu pencapaian kematangan siswa dalam meraih tujuan belajarnya, baik secara akademis maupun psikologis. Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah dampak psikologisnya. Siswa yang harus tertunda proses pembelajarannya akibat penutupan sekolah dan sangat memungkinkan akan mengalami trauma psikologis yang membuat mereka demotivasi dalam belajar. Adapun untuk terhambatnya proses pendidikan karena penutupan dan penundaan waktu belajar, maka perlu disiapkan solusi kongkret pula. Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan sistem pembalajaran jarak jauh dengan memanfaat teknologi yang ada. Sebab jika tidak, maka ini akan memberikan dampak negatif terhadap perkembangan kematangan hasil dan pencapaian dari proses pendidikan.
Pandemi Covid-19 telah memaksa jutaan peserta didik harus belajar di rumah dan sementara itu banyak pendidiknya tiba-tiba jadi “gagap mengajar” karena harus mengubah cara mengajar secara drastis dari tatap muka menjadi cara daring secara tiba- tiba. Tidak ada kejelasan tentang kapan persoalan pendemik Covid-19 dapat berakhir oleh karena itu sangatlah penting untuk membekali para pendidik dengan pedagogik yang terkait erat dengan pemanfaatan teknologi. Tahun 2020 akan menjadi tahun yang tak terlupakan bagi dunia pendidikan nasional. Semua agenda nasional pendidikan dibatalkan.
Di tahun ini, tercatat tahun yang memiliki jadwal libur sekolah yang paling panjang. Guru-guru dipaksa untuk berfikir keras menyiapkan modul dan model pembelajaran jarak jauh. Mendekatkan mereka memanfaatkan teknologi internet untuk pembelajaran. Sesungguhnya pembelajaran cara daring bukanlah hal yang sangat baru, sudah terdapat teori-teori pendidikan dan penelitian yang berkaitan dengan belajar jarak jauh sehingga seharusnya belajar cara daring bukan sekedar sebuah proses “digitalisasi” bahan ajar, yaitu mengubah bahan ajar hanya jadi bahan bacaan atau tontonan secara digital.
Prof George Siemens, seorang guru besar dari Athabasca University di Kanada merupakan salah seorang pelopor pengembangan pedagogik untuk pembelajaran yang memanfaatkan teknologi. Ia mengusulkan sebuah teori alternatif untuk pendidikan yaitu Connectivism. Ini adalah sebuah teori pendidikan yang memasukkan teknologi dan konektivitas sebagai bagian dari kegiatan belajar yang penting.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar