Selasa, 02 Juni 2020


KEBUDAYAAN SEKULAR DAN FUNDAMENTALISME DALAM AGAMA
(TANTANGAN MISI GEREJA DEWASA INI)

Selama perjalanan abad 19 dan abad 20 gerakan Fundamentalisme dalam negara sudah menjadi satu gejala sosial (Jaggi & David, 1992: 21.75). Gereja semacam ini tidak hanya terbatas pada satu agama, suku atau bangsa tertentu, tapi sudah menjadi satu gejala sosial yang umurn dengan kadar gerakan yang berbeda-beda di sana sini. Fundamentalisme sebagai satu gejaJa sosial bukan hanya daJam bidang agama tentunya mencerminkan satu gerakan yang berusaha untuk menempatkan kembali apa yang menjadi dasar atau "FUNDAMEN" kehidupan bermasyarakat daJam penghayatan kehidupan sosialnya, terutama ketika dasar atau fondasi yang dipegang bersama itu terancam musnah oleh karena arus baru perkembangan masyarakat.
Kebudayaan Sekular yang merupakan hasil gejolak masyarakat barat dan yang kini sedang melanda seluruh dunia, bertolak dari proses sekularisasi di dalam masyarakat barat (Kuenzlen, 1991: 201-204). Proses itu tidak lain dari pada usaha penglepasan diri masyarakat dan Negara dari ketergantungannya pada agama, dalam hal ini gereja. Bentuk dan susunan masyarakat duniawi berdiri di atas nilai, norma dan pola tingkah laku yang tidak lagi di tentukan oleh agama.  Proses sekularisasi di barat yang secara intensif dimulai sejak awal zaman pencerahan ( akhir abad 1 7) mencerminkan satu kek.hasasan pemahaman diri manusia modem. Kekhasan itu terletak dalam kesadaran manusia akan kemandirianya yang di tuntun oleh akal budi untuk secara bebas menentukan nasib dirinya dan nasib dunia.
Krisis kebudayaan secular memang sudah Nampak sejak awal lahimya kebudayaan ini. Krisis ini bermula dengan sikap ragu-ragu manusia akan landasan dan arah masyarakat secular yang telah di gariskan di atas (Kuenzlen, 1991 : 204-206). Sikap ragu-ragu ini kemudian diperkokoh oleh kenyataan bahwa kekuatan iman secular yang telah menghantar manusia kepada kemajuan yang begitu pesat sudah menjadi goyah. Kepercayaan akan ilmu pengetahuan dan tekhnik telah membuka jalan yang berbahaya menuju kehancuran global dan pada gilirannya membuahkan satu ketakutan yang mencekam.
Reaksi kelompok Kristen terhadap tantangan pemikiran secular diatas memang berbeda-beda, tetapi ada kelompok Kristen radikal yang menolak setiap bentuk kompromi dengan arus pemikiran secular dan gagasan dasarnya. Kelompok Kristen radikal ini yang kemudian dikenal dengan nama kelompok Fundamentalismus Kristen berseru-seru kepada orang Kristen untuk kembali ke dasar-dasar iman Kristiani yang digodoknya ke dalam 4 pokok: pertama, Kitab Suci tidak keliru dan tidak sesat s ecara harafiah; kedua, hasil ilmu pengetahuan modem yang bertentangan dengan ajaran Kitab Suci harus ditolak, termasuk penolakan terhadap ajaran teologis yang tidak secara harafiah mengikuti ajaran Kitab Suci; ketiga, orang Kristen yang sejati adalah orang yang menghayati pedoman dasar tersebut; keeempat, politik pemerintah harus bersifat Kristen (Kuenzlen, 1991 : 199).
Di Indonesia sendiri gerakan radikal Islam sudah tampil dalam perjuangan untuk mendirikan negara Islam dan menegakkan Syariat Islam sejak masa perjuangan kemerdekaan Indonesia sampai kepada situasi dewasa ini. Beberapa organisasi politis yang berjutuankan hal itu dalam sejarah bangsa antara lain adalah gerakan Darul Islam di bawah pimpinan Kartosuwiryo, Masyumi di bawah pimpinan Mohamad Natsir. Dalam sebuah sidang Konstituante pada tahun 1957, Mohamad Natsir menegaskan perlunya suatu negara Demokrasi Islam" dan berkata "Karena Pancasila nertal dan sekular, kedudukannya sebagai dasar negara sangat kabur dan tidak bermakna apa-apa bagi umat Islam" (FORUM, 23 April 2000:23). Organisasi actual yang berhaluan keras di bumi Indonesia adalah KISDI (Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam) di bawah pimpinan Ahmad Soemargono, Laskar Jihad di bawah panglirna Ja'Far Umar Thalib dengan anggota terlatih sekitar l 000 orang (FKA WJ= Forum Komunikasi Ahlusswnnah Wal Jamaah" yang menggelar tanlig akbar di Stadion Utara Senayan Jakarta pada tanggal 6 April 2000), Gerakan Negara Islam Indonesia (NII) yang merebak di ITB dan IPB di kalangan mahasiswa dan mendapat sekitar 500.000 pendukung di Jawa Barat Maret 2000 yang lalu (Tempo, 28-5 Maret 2000: 18024).
Bersama dengan organisasi-organisasi religius dari agama apapun di bumi Indonesia, gereja berhadapan dengan fenomena global yang sama, dan fenomena itu tampil dalam kebudayaan globalisasi yang melampaui batas-batas Negara dan benua, batas-batas suku, golongan, ideologi dan agama Kenyataan sosial di bumi Indonesia bukanlah satu kenyataan sosial yang terisolir dari kenyataan sosial di dunia lain. Kenyataan sosial di Indonesia memperlihatkan juga kenyataan social mondial yang menjadi miliki manusia modem. 
Proyek ideal gereja katolik dalam menghadapi tantangan yang demikian adalah selain membangun kewaspadaan dan kemampuan para anggotanya untuk mengantisipasi kemungkinan buruk yang menimpanya akibat mekanisme pergolakan sosial di tanah air, juga dalam jangka panjang untuk menggalang kerja sama lintas agama di segala lapisan masyarakat demi martabat kemanusiaan bangsa kita dan meningkatkan kesaksian hidup yang bertoalk dari iman sendiri demi kekayaan rohani bangsa kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar