KEBUDAYAAN SEKULAR DAN FUNDAMENTALISME DALAM AGAMA
(TANTANGAN MISI GEREJA DEWASA INI)
Selama perjalanan abad 19 dan abad 20 gerakan Fundamentalisme dalam
negara sudah menjadi satu gejala sosial (Jaggi
& David, 1992: 21.75). Gereja semacam ini tidak hanya terbatas pada satu
agama, suku atau bangsa tertentu, tapi sudah menjadi satu gejala sosial yang umurn dengan kadar
gerakan yang berbeda-beda di sana sini. Fundamentalisme sebagai satu gejaJa sosial bukan hanya daJam bidang agama tentunya mencerminkan satu gerakan yang berusaha untuk menempatkan
kembali apa yang menjadi dasar atau "FUNDAMEN" kehidupan bermasyarakat daJam penghayatan
kehidupan sosialnya, terutama ketika dasar atau fondasi yang dipegang bersama itu
terancam musnah oleh karena arus baru perkembangan masyarakat.
Kebudayaan Sekular yang merupakan hasil gejolak
masyarakat barat dan yang kini sedang melanda seluruh dunia, bertolak dari proses sekularisasi
di dalam masyarakat barat (Kuenzlen, 1991: 201-204). Proses itu tidak lain dari pada usaha
penglepasan diri masyarakat dan Negara dari ketergantungannya pada agama, dalam hal ini gereja. Bentuk dan susunan masyarakat duniawi berdiri di atas nilai, norma dan pola tingkah laku yang tidak lagi di tentukan oleh agama. Proses sekularisasi di barat yang secara
intensif dimulai sejak awal zaman pencerahan ( akhir abad 1 7) mencerminkan satu kek.hasasan
pemahaman diri manusia
modem. Kekhasan itu terletak dalam kesadaran manusia akan kemandirianya yang di
tuntun oleh akal budi untuk secara bebas menentukan nasib dirinya dan nasib dunia.
Krisis kebudayaan secular memang sudah
Nampak sejak awal lahimya kebudayaan ini. Krisis ini bermula dengan sikap ragu-ragu manusia akan landasan dan arah masyarakat
secular yang telah di gariskan di atas (Kuenzlen, 1991 : 204-206). Sikap ragu-ragu ini kemudian diperkokoh oleh kenyataan bahwa
kekuatan iman secular yang telah
menghantar manusia kepada kemajuan yang begitu pesat sudah menjadi goyah. Kepercayaan akan ilmu pengetahuan dan
tekhnik telah membuka
jalan yang berbahaya menuju
kehancuran global dan
pada gilirannya membuahkan satu ketakutan yang mencekam.
Reaksi kelompok Kristen terhadap
tantangan pemikiran secular diatas memang berbeda-beda, tetapi ada kelompok Kristen radikal yang menolak setiap bentuk kompromi dengan arus
pemikiran secular dan gagasan dasarnya. Kelompok Kristen radikal ini yang kemudian dikenal dengan
nama kelompok Fundamentalismus
Kristen berseru-seru kepada orang Kristen untuk kembali ke dasar-dasar iman Kristiani
yang digodoknya ke dalam 4 pokok: pertama, Kitab Suci tidak keliru dan
tidak sesat s ecara harafiah;
kedua, hasil ilmu pengetahuan modem yang bertentangan dengan ajaran
Kitab Suci harus ditolak, termasuk penolakan terhadap ajaran teologis yang tidak secara harafiah mengikuti ajaran Kitab Suci; ketiga, orang Kristen yang sejati adalah orang yang menghayati pedoman dasar tersebut; keeempat, politik pemerintah harus bersifat Kristen (Kuenzlen, 1991 : 199).
Di Indonesia sendiri gerakan radikal Islam sudah tampil dalam perjuangan untuk mendirikan negara Islam dan menegakkan Syariat
Islam sejak masa perjuangan kemerdekaan Indonesia
sampai kepada situasi dewasa ini. Beberapa organisasi politis yang berjutuankan hal itu dalam sejarah bangsa antara lain adalah gerakan Darul Islam
di bawah pimpinan Kartosuwiryo, Masyumi di bawah pimpinan Mohamad Natsir. Dalam sebuah sidang Konstituante pada tahun 1957, Mohamad Natsir menegaskan
perlunya suatu negara Demokrasi Islam" dan berkata "Karena Pancasila nertal dan sekular, kedudukannya sebagai dasar negara sangat kabur dan tidak
bermakna apa-apa bagi umat Islam" (FORUM, 23 April 2000:23).
Organisasi actual yang berhaluan keras di bumi Indonesia adalah KISDI (Komite
Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam) di bawah pimpinan Ahmad Soemargono, Laskar Jihad di bawah panglirna
Ja'Far Umar Thalib dengan anggota terlatih sekitar l 000 orang (FKA WJ= Forum Komunikasi Ahlusswnnah Wal
Jamaah" yang menggelar tanlig akbar di Stadion Utara Senayan Jakarta pada tanggal 6 April 2000), Gerakan Negara Islam
Indonesia (NII)
yang merebak di ITB dan IPB di kalangan mahasiswa dan mendapat sekitar 500.000 pendukung di Jawa
Barat Maret 2000 yang lalu (Tempo, 28-5 Maret 2000: 18024).
Bersama dengan organisasi-organisasi
religius dari agama apapun di bumi Indonesia, gereja berhadapan dengan fenomena global yang sama, dan fenomena itu tampil dalam
kebudayaan globalisasi yang melampaui batas-batas Negara dan benua, batas-batas suku,
golongan, ideologi dan agama Kenyataan sosial di bumi Indonesia bukanlah satu kenyataan sosial yang terisolir dari
kenyataan sosial di dunia lain. Kenyataan sosial di Indonesia memperlihatkan juga
kenyataan social mondial yang menjadi miliki manusia modem.
Proyek ideal gereja katolik dalam
menghadapi tantangan yang demikian adalah selain membangun kewaspadaan dan kemampuan para anggotanya
untuk mengantisipasi kemungkinan
buruk yang menimpanya akibat mekanisme pergolakan sosial di tanah air, juga dalam jangka panjang untuk menggalang kerja sama lintas agama di
segala lapisan masyarakat demi martabat kemanusiaan bangsa kita dan
meningkatkan kesaksian hidup yang bertoalk dari iman sendiri demi kekayaan rohani
bangsa kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar