Kritik Agama
Kritik agama adalah kritik terhadap agama itu sendiri. Kritik ini ditujukan kepada segala sesuatu yang berhubungan dengan agama, termasuk segala sesuatu yang merupakan hal esensial dalam agama. Sedangkan, kritik itu sendiri bisa menjadi suatu tingkah laku beragama, kepada ajaran-ajaran
pokok agama, kepada hubungan antaragama, kepada ritus-ritus dan upacara-upacara agama, kepada salah satu agama, kepada agama pada umumnya, kepada pendiri agama dan organisasi agama, kepada relasi agama dengan bidang-bidang lain dan sebagainya. Kritik yang dilancarkan terhadap agama bertolak dari pendirian umum ilmu
pengetahuan, bahwa tidak ada sesuatu pun di dunia ini bersifat tabu. Selain pada itu bisa menjadikan itu memiliki
kritikan yang lebih besar daripada biasanya.
Kritik agama biasanya juga bisa
dibilangkan, sebagian besar dari apa yang inginkan dijalankan sebagai tujuannya
itu sendiri. Dengan agama bukan satu hal yang tabu. Di hadapan akal budi dan kemampuan akal budi manusia, agama berkedudukan sama seperti benda-benda kodrat lain atau hal-hal duniawi
lain yang tidak bebas dari peneropongan akal budi. Sedanngkan, ini bisa menjadikan penggambaran akan keajiban
Allah yang di gambarkan dalam Teologi atau dalam keyakinan agama tertentu atau
juga wahyu yang menampatkan agama dalam satu ruang yang tak boleh dipertanyakan lagi tidak terlepas dari kritik
sebagai alat yang menghasilkan pencerahan
lebih lanjut tentang agama. Terlepas pula dari hal itu pada bagian bagaiamana menjadikan
agama itu bisa menjadikan kita bekerja lebih keras untuk lebih bisa memahaminya
dengan lebih baik lagi.
Setelah kita melihat apa
itu kritik agama dan apa jenis kritik
agama dengan sifat-sifat tertentu dari kritik agama, kita
mengemukakan beberapa pendasaran yang menjadi
titik tolak mengapa kritik agama dilontarkan terhadap agama. Oleh karena itu, bagaiamana mereka menjadikan bahwa hal ini
bisa menjadikan kita lebih, bekerja dengan lebih lagi oleh karena sifat-sifat
itu sendiri. Yaitu kritik agama dengan dasar antropologis, ini bisa menjadi “manusia
yang berakal budi” sesuai ukurannya. Yang kedua adalah kritik agama berdasarkan
pengalaman mistis sesuai ukurannya. Dengan menjadikan hal itu yang sangat
sederhana dalam beberapa hal yang ada untuk agama itu sendiri.
Dengan demikian
kita sendiri bisa menyimpulkan bagaimana kita sendiri bisa mengenali agama itu
berasal dari masyarakat, dan tercipta karena ada masyarakat.
Kehadiran agama terbaca karena ada aturan-aturan semua tingkah
laku sosial. Selain itu
kita sendiri bisa mengungkapkan bagaiamana peristiwa agama diciptakan dengan ritus-ritus dan simbol-simbol tentang masyarakat dengan maksud untuk memperkokoh kesatuan kelompok sosial dan untuk memberi dasar bagi
institusi kelompok sosial itu dan menjadikan hal itu bisa
lebih kuat dan lebih besar lagi akan harapannya dengan apa yang bisa menjadikan
diri kita sendiri dalam hal ini. Selain
dari pada itu kita bisa menjadikan, bahwa agama itu
merupakan ungkapan simbolis
rasa sujud-hormat dan rasa ketergantungan pada
kelompok sosial atau masyarakat, karena karakter religius itu secara
hakiki ada dalam masyarakat.
Ungkapan simbolis itu keluar dari satu kesadaran kolektif yang terbentuk
dari sintese kesadaran-kesadaran perorangan akan
tindakan kolektif atau juga akan kesatuan
perorangangan dalam satu
kelompok sosial atau masyarakat yang telah terorganisir secara sistematis. Dengan
demikian, unsur hakiki agama adalah masyarakat, atau sebaliknya
unsur hakiki masyarakat pada dasarnya agama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar