Selasa, 14 April 2020

Kritik Agama

Kritik agama adalah kritik terhadap agama itu sendiri. Kritik ini ditujukan kepada segala sesuatu yang berhubungan dengan agama, termasuk segala sesuatu yang merupakan hal esensial dalam agama. Sedangkan, kritik itu sendiri bisa menjadi suatu tingkah laku beragama, kepada ajaran-ajaran pokok agama, kepada hubungan antaragama, kepada ritus-ritus dan upacara-upacara agama, kepada salah satu agama, kepada agama pada umumnya, kepada pendiri agama dan organisasi agama, kepada relasi agama dengan bidang-bidang lain dan sebagainya. Kritik yang dilancarkan terhadap agama bertolak dari pendirian umum ilmu pengetahuan, bahwa tidak ada sesuatu pun di dunia ini bersifat tabu. Selain pada itu bisa menjadikan itu memiliki kritikan yang lebih besar daripada biasanya.
Kritik agama biasanya juga bisa dibilangkan, sebagian besar dari apa yang inginkan dijalankan sebagai tujuannya itu sendiri. Dengan agama bukan satu hal yang tabu. Di hadapan akal budi dan kemampuan akal budi manusia, agama berkedudukan sama seperti benda-benda kodrat lain atau hal-hal duniawi lain yang tidak bebas dari peneropongan akal budi. Sedanngkan, ini bisa menjadikan penggambaran akan keajiban Allah yang di gambarkan dalam Teologi atau dalam keyakinan agama tertentu atau juga wahyu yang menampatkan agama dalam satu ruang yang tak boleh dipertanyakan lagi tidak terlepas dari kritik sebagai alat yang menghasilkan pencerahan lebih lanjut tentang agama. Terlepas pula dari hal itu pada bagian bagaiamana menjadikan agama itu bisa menjadikan kita bekerja lebih keras untuk lebih bisa memahaminya dengan lebih baik lagi.
Setelah kita melihat apa itu kritik agama dan apa jenis kritik agama dengan sifat-sifat tertentu dari kritik agama, kita mengemukakan beberapa pendasaran yang menjadi titik tolak mengapa kritik agama dilontarkan terhadap agama. Oleh karena itu, bagaiamana mereka menjadikan bahwa hal ini bisa menjadikan kita lebih, bekerja dengan lebih lagi oleh karena sifat-sifat itu sendiri. Yaitu kritik agama dengan dasar antropologis, ini bisa menjadi “manusia yang berakal budi” sesuai ukurannya. Yang kedua adalah kritik agama berdasarkan pengalaman mistis sesuai ukurannya. Dengan menjadikan hal itu yang sangat sederhana dalam beberapa hal yang ada untuk agama itu sendiri.
Dengan demikian kita sendiri bisa menyimpulkan bagaimana kita sendiri bisa mengenali agama itu berasal dari masyarakat, dan tercipta karena ada masyarakat. Kehadiran agama terbaca karena ada aturan-aturan semua tingkah laku sosial. Selain itu kita sendiri bisa mengungkapkan bagaiamana peristiwa agama diciptakan dengan ritus-ritus dan simbol-simbol tentang masyarakat dengan maksud untuk memperkokoh kesatuan kelompok sosial dan untuk memberi dasar bagi institusi kelompok sosial itu dan menjadikan hal itu bisa lebih kuat dan lebih besar lagi akan harapannya dengan apa yang bisa menjadikan diri kita sendiri dalam hal ini. Selain dari pada itu kita bisa menjadikan, bahwa agama itu merupakan ungkapan simbolis rasa sujud-hormat dan rasa ketergantungan pada kelompok sosial atau masyarakat, karena karakter religius itu secara hakiki ada dalam masyarakat. Ungkapan simbolis itu keluar dari satu kesadaran kolektif yang terbentuk dari sintese kesadaran-kesadaran perorangan akan tindakan kolektif atau juga akan kesatuan perorangangan dalam satu kelompok sosial atau masyarakat yang telah terorganisir secara sistematis. Dengan demikian, unsur hakiki agama adalah masyarakat, atau sebaliknya unsur hakiki masyarakat pada dasarnya agama.